Prinsip-Prinsip Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah (Bag. 6): Mencintai Seluruh Sahabat Nabi
Keempat, mencintai seluruh sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
Ciri manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah berikutnya adalah kecintaan mereka kepada seluruh sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka sangat memuliakan, menghormati, dan menjadikan para sahabat radhiyallahu ‘anhum sebagai suri teladan dalam memahami serta mengamalkan sunah. Mereka tidak membahas perselisihan yang terjadi di antara para sahabat pada masa fitnah yang salah satunya dipicu oleh Ibnu Saba’ al-Yahudi. Sebaliknya, mereka memberikan uzur kepada para sahabat. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
لا تسبوا أصحابي، فلو أن أحدكم أنفق مثل أُحُدٍ ذهبًا ما بلغ مُدَّ أحدهم ولا نصيفه
“Janganlah kalian mencela para sahabatku. Seandainya salah seorang di antara kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, niscaya tidak akan menyamai satu mud infak salah seorang dari mereka, bahkan tidak pula setengahnya.” (HR. Bukhari no. 3673)
Demikian pula firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya.” (QS. At-Taubah: 100)
Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang kaum Muhajirin,
لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ
“Bagi orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin, yaitu mereka yang diusir dari kampung halaman dan harta benda mereka. Mereka mencari karunia dan keridaan Allah serta menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hasyr: 8)
Lalu Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman tentang kaum Anshar,
وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan orang-orang yang telah menempati negeri (Madinah) dan telah beriman sebelum kedatangan mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang-orang yang berhijrah kepada mereka. Mereka tidak menaruh keinginan dalam hati terhadap apa yang diberikan kepada kaum Muhajirin, dan mereka mengutamakan kaum Muhajirin atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka juga memerlukan. Barang siapa dijaga dari sifat kikir, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)
Kemudian Allah berfirman tentang orang-orang yang datang setelah mereka,
وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka berdoa, ‘Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah lebih dahulu beriman, dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami rasa dengki terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang’.” (QS. Al-Hasyr: 10)
Tidak seperti yang dikatakan oleh kaum Rafidhah, semoga Allah menghinakan mereka. Mereka mengatakan, “Ya Allah, laknatlah Abu Bakar dan Umar.” Mereka mencela para sahabat dan mengkafirkan mereka.
Maka, termasuk prinsip utama yang dipegang Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah selamatnya hati dan lisan mereka dari mencela dan memusuhi para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada seorang pun yang membenci para sahabat kecuali dia adalah seorang munafik, dan tidak ada seorang pun yang mencintai mereka kecuali dia adalah seorang mukmin. Tidak ada pula yang membenci mereka kecuali orang yang membenci Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tidak ada yang mencintai mereka kecuali orang yang mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ ٱللَّهِ ۚ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ أَشِدَّآءُ عَلَى ٱلْكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَىٰهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضْوَٰنًا ۖ سِيمَاهُمْ فِى وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ ٱلسُّجُودِ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِى ٱلتَّوْرَىٰةِ ۚ وَمَثَلُهُمْ فِى ٱلْإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْـَٔهُۥ فَـَٔازَرَهُۥ فَٱسْتَغْلَظَ فَٱسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِۦ يُعْجِبُ ٱلزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ ٱلْكُفَّارَ ۗ وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ مِنْهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًۢا
“Muhamad itu adalah utusan Allah. Dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang dengan sesama mereka. Kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, lalu tunas itu menjadikan tanaman itu kuat dan menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya. Tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Fath: 29)
Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman,
لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا
“Sungguh Allah telah rida kepada orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon. Maka Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu Dia menurunkan ketenangan kepada mereka dan memberikan kepada mereka kemenangan yang dekat.” (QS. Al-Fath: 18)
Ayat-ayat Al-Qur’an yang berisi pujian dan sanjungan kepada para sahabat sangatlah banyak. Hal ini menunjukkan betapa mulianya kedudukan mereka di sisi Allah ‘Azza wa Jalla serta bahwa mereka merupakan teladan bagi generasi yang datang setelah mereka. Sebab, mereka adalah para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, generasi terbaik yang belajar langsung dari beliau, berjihad bersama beliau, serta membela dan menolong dakwah beliau.
Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, merekalah yang memikul amanah menyebarkan agama Islam hingga tersebar ke berbagai penjuru dunia, baik di timur maupun di barat. Mereka mengorbankan jiwa dan harta mereka di jalan Allah, menaklukkan berbagai negeri, serta menegakkan dan menampakkan agama Allah di tengah umat manusia. Maka, tidaklah seorang pun membenci dan merendahkan para sahabat radhiyallahu ‘anhum kecuali orang munafik yang membenci Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Inilah sebagian jejak perjuangan dan amalan agung para sahabat. Tidaklah seseorang membenci mereka melainkan karena kemunafikan yang ada dalam hatinya. Kebencian itu bukan karena para sahabat pernah mengambil haknya atau menyakitinya, melainkan karena keimanan mereka, kemuliaan kedudukan mereka dalam Islam, serta jasa-jasa besar mereka terhadap agama ini.
Merekalah orang-orang yang menolong dan melindungi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, berjihad bersama beliau, menyebarkan agama yang beliau bawa, menjaga sunah beliau, menyampaikannya kepada umat, bersabar bersama beliau menghadapi berbagai kesulitan, serta menanggung berbagai penderitaan di jalan Allah. Maka, tidaklah seseorang merendahkan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melainkan ia adalah orang yang telah Allah ‘Azza wa Jalla butakan mata hatinya, atau orang yang di dalam hatinya terdapat kemunafikan, kedengkian, serta kebencian terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau.
[Bersambung]
***
Penulis: Chrisna Tri Hartadi
Artikel Muslim.or.id
Catatan kaki:
Disarikan dari kitab Ma’alim Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah, karya Syekh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah, hal. 25-28.
Artikel asli: https://muslim.or.id/116247-prinsip-manhaj-ahlus-sunnah-6.html